Attention !!

Synopsis tidak bisa update secara teratur karena dibuat di sela-sela waktu author :)


Di karenakan sudah memasuki tugas akhir kuliah, synopsis Fox Summer tidak akan update teratur!


Hal ini karena author merupakan seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta & juga mahasiswi di sebuah perguruan tinggi :)

Regards,


Translate / Terjemahkan

Sunday, June 18, 2017

Sinopsis Drama Korea : DUEL Episode 03 - 1



Images by : OCN

Prolog :
Di sebuah tempat, seperti gudang yang kosong. Seorang pria terikat dikursi dan diletakkan di tengah-tengah gedung. Leher pria itu juga terjerat kawat dan terlihat sulit bernapas. Tubuhnya pun berlumuran dengan darah. Sung Joon berlari menghampiri pria itu dengan panik dan berusaha mencari sesuatu untuk melepaskan kawat di leher pria itu.

“Kau tidak bisa menyelamatkannya,” tiba-tiba terdengar suara pria. Itu adalah suara Sung Hoon. Sung Joon berbalik dan terkejut melihat Sung Hoon yang berdiri di belakang pria tersebut. “Bukankah dia layak untuk mati? Buat apa kau menyelamatkannya?” tanya Sung Hoon. Dan, dia mulai menarik kawat yang menjerat leher pria itu dengan erat hingga pria itu kesakitan.
Sung Joon berlari hendak menghentikan perbuatan Sung Hoon tersebut.
DUEL
Sung Joon dan Deuk Cheon sudah terpojok. Dan satu-satunya cara yang mereka punya hanya melompat dari atas jembatan.
Byurrr…. Seiring dengan lompatan mereka, hujan pun turun.
Para polisi melihat dari atas jembatan dan menggerutu kesal karena mereka malah melompat. Salah seorang diantara mereka, memerintahkan yang lain untuk memeriksa mobil Deuk Cheon dulu dan melaporkan hal ini ke Pusat.

Jo Hye mendapat laporan dari bawahannya kalau Deuk Cheon bersama dengan bawahan Man Coon menyerang mobil patroli dan bus yang membawa Man Choon dan Sung Joon. Dia membantu penculik untuk melarikan diri. Jo Hye tidak percaya mendengar laporan tersebut dan bergumam kalau Deuk Cheon sudah benar-benar gila. Bawahannya lanjut memberitahu kalau Deuk Cheon dan Sung Joon sudah hampir tertangkap tetapi mereka melompat ke dalam sungai. Jo Hye tambah terkejut mendengarnya dan bertanya apa Deuk Cheon dan Sung Joon mati? Bawahan segera menjawab kalau mereka belum tahu mengenai hal itu. Sementara Yang Man Choon, salah satu anak buahnya meninggal saat kejadian tetapi mereka kehilangan jejak Yang Man Choon dan anak buahnya yang lain. Dan ada lagi satu tahanan lain di dalam bus, dia terluka akibat kecelakaan tersebut. Jo Hye  segera memberi perintah kalau mereka akan bertanggung jawab atas kejadian ini, bentuk tim pencari dan cari para tahanan yang kabur secara menyeluruh. Tingkatkan pemeriksaan di daerah terdekat.
“Hidup atau mati, pastikan kau menemukan mereka,” perintah Jo Hye tegas. “Dan… datangi semua orang yang terlibat dengan mereka di penjara dan polisi. Pastikan bahwa mereka tetap dia tentang keterlibatan Kepala Jang. Ini hanya akan jadi rahasia kita untuk sementara waktu. Jangan biarkan atasan mengetahui hal tersebut.”
Bawahan mengerti dan segera pamit.
Episode 03
Hari sudah malam, dan ditengah guyuran hujan, tampak Deuk Cheon yang sedang menarik tubuh Sung Joon ke tepi sungai.
Deuk Cheon dengan suara lemah menyuruh Sung Joon untuk bangun. Sung Joon yang setengah sadar, berkata kalau tubuhnya terasa sangat sakit. Deuk Cheon menjawab kalau itu berarti mereka masih hidup. Dia menyuruh Sung Joon untuk segera bangkit karena mereka tidak punya waktu. Mereka harus segera pergi sebelum matahari terbit.

Deuk Cheon dengan tertatih bersama Sung Joon mulai berjalan pergi. Mereka tidak menyadari, dari seberang sungai, seorang pria mengamati mereka. Pria itu adalah pria yang menemui Sung Hoon di episode sebelumnya. Pria itu melaporkan pada Sung Hoon melalui handphone kalau Deuk Cheon dan Sung Joon masih hidup. Sung Hoon menyuruhnya untuk terus mengawasi mereka berdua karena mereka akan mengatur rencana untuk mencocokkan kecepatan mereka.
“Itu terdengar lebih menyengangkan,” ujarnya sambil menyeringai.
Deuk Cheon berjalan dan teringat sesuatu. Dia meraih sakunya dan merasa lega karena jepit rambut Soo Yeon masih ada. Jepit rambut itu dia ambil dari tempat penyimpanan barang bukti sebelum membantu Sung Joon kabur.
Tidak jauh dari mereka, terdengar suara mobil sirine polisi yang mendekat. Deuk Cheon menyuruh Sung Joon untuk bergerak cepat.

Polisi bersama dengan anggota Deuk Cheon menyisiri sepanjang sungai dan menemukan perban bernoda darah. Itu adalah perban yang ada di tangan Sung Joon. Polisi memberitahu kalau mereka hanya bisa menemukan perban itu malam ini, dan sulit untuk melakukan penyisiran lebih jauh karena hujan yang begitu lebat. Hyung Shik mengerti dan berkata akan membawa perban itu saja. Polisi segera memberitahu kalau mereka mendapat perintah kalau semua bukti yang ditemukan harus di kirim ke Kejaksaan. Hyung Shik dengan berkeras memberitahu kalau dia dan Kejaksaan adalah satu team jadi dia saja yang akan memberikannya.
Hyung Shik di dalam mobil berteriak kesal sehingga membuat Soo Ho kebingungan. Hyung Shik mulai memberitahu kalau sebelum Deuk Cheon membawa kabur Sung Joon, dia sebelumnya sudah memberitahu hal tersebutnya. Deuk Cheon berkata kalau itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Soo Yeon dan dia minta maaf pada mereka. Dan dia juga akan menghubungi Hyung Shik setelah semuanya selesai dan dia mungkin juga akan butuh bantuan mereka. Hyung Shik jelas bingung dan melarang Deuk Cheon melakukan hal tersebut tetapi Deuk Cheon sudah mematikan ponselnya dan tidak bisa lagi dihubungi.
Soo Ho berteriak kesal karena Hyung Shik baru memberitahu padanya sekarang. Hyung Shik balas berteriak kalau dia juga tidak tahu akan seperti ini. Soo Ho balas menjawab kalau dia hanya tahu kalau kaburnya tahanan karena ulah Man Choon dan bukan karena Deuk Cheon. Mereka berdua jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka juga khawatir tentang keselamatan Deuk Cheon yang berarti ikut melompat ke dalam sungai.
“Dia tidak akan mati sebelum dia menemukan Soo Yeon. Tidak, dia tidak akan mati. Dia akan segera menelpon kita. Aku yakin itu,” ujar Hyung Shik.
Jo Hye menemui Kepala Kejaksaan, Woo Byung Cheon. Kepala Jaksa benar-benar merasa marah karena dua tahanan kabur ditambah lagi kedua tahanan itu adalah pelaku yang di tangkap oleh Jo Hye.
“Karena itu, kasus ini tidak boleh terbuka untuk umum,” pinta Jo Hye.
Kepala Jaksa tentu bingung mendengar perkataan Jo Hye, bukankah lebih baik kasus itu dibiarkan terbuka dengan menempatkan mereka ke daftar pencarian orang.
“Tahanannya adalah penculik dari Jang Soo Yeon. Tapi, kita masih belum tahu keberadaan anak itu. Dalam kasus tersebut, jika kita menempatkan dia dalam daftar orang yang dicari dan kasus ini terbuka untuk umum, akan jadi mustahil untuk kita menemukan anak itu,” jelas Jo Hye.
“Jadi? Karena anak itu? Baiklah, aku tahu kau hebat dalam pekerjaanmu. Sebagai gantinya, aku tidak bisa memberi banyak waktu. Selesaikan kasus ini secara cepat,” putus Kepala Jaksa. Jo Hye berterimakasih.
Jo Hye kembali ke ruangannya dan mendapat laporan dari bawahannya kalau bukti yang ditemukan hilang. Dia dengar Hyung Shik dan Soo Ho mengambil bukti yang ditemukan.
“Pergilah ke kantor polisi Jungbuk,” perintah Jo Hye.
Bawahan mengerti dan dia mulai mengeluh mengenai Hyung Shik dan Soo Hoo karena mengambil bukti dan tidak mengikuti prosedur. Jo Hye menjawab kalau itu bukan hal yang penting. Sekarang, bawa Lee Hyung Shik dan Na Soo Ho kemari.

Sung Joon berada di sebuah kebun warga dan sedang membersihkan luka di lengannya akibat kecelakaan bus tersebut. Deuk Cheon menanyakan keadaannya dan memberikan baju untuk dipakai Sung Joon karena Sung Joon kelihatan mencolok mengenakan baju tahanan. Dia memberitahu kalau baju itu dia temukan di jalan.


Sebuah mobil patroli terlihat dari jauh dan Deuk Cheon segera mengajak Sung Joon untuk bersembuyi. Polisi sampai ke sana dan melihat ada tanah yang tergenang air berwarna merah. Polisi melihat sekeliling dan tidak memeriksa secara seksama sehingga tidak menemukan Sung Joon dan Deuk Cheon yang bersembunyi di belakang tumpukan pupuk.
Setelah polisi pergi, Deuk Cheon mengajak Sung Joon untuk segera pergi. Sung Joon sudah berganti baju sementara Deuk Cheon sedang mencongkel mobil yang ada di dekat sana. Sung Joon bergumam kalau dia baru tahu kalau polisi bisa melakukan hal semacam itu. Deuk Cheon hanya menjawab kalau dia sudah lama menjadi polisi dan mempelajari hal ini dari orang-orang yang ditangkapnya.
Pintu mobil berhasil dibuka, karena mereka tidak punya kunci mobil, Deuk Cheon menyalakan mobil dengan manual. Dia melepas penutup mesin dan menyatukan dua kabel untuk menyalakan mesin. Mobil patroli polisi terlihat berada tidak jauh dari mereka. Sung Joon dengan panik meminta Deuk Cheon untuk cepat. Deuk Cheon berusaha cepat tetapi dia tidak bisa menghidupkan mesinnya juga. Sung Joon segera mengambil alih dan menyatukan dua kabel tersebut dan mesin langsung menyala. Mobil pun bisa melaju.
Didalam mobil, Deuk Cheon bertanya heran bagaimana Sung Joon bisa melakukan hal tadi. Sung Joon juga tidak tahu dan menduga kalau dulu mungkin dia berada di sekitar orang jahat.  
Mereka hendak menuju Busan untuk mencari ingatan Sung Joon. Mereka akan mencari tunawisma yang memberikan tiket pada Sung Joon karena Sung Joon kan waktu itu bilang ingat wajah tunawisma tersebut. Sung Joon merasa sedikit senang karena ada yang membantunya menemukan ingatannya. Deuk Cheon mengklarifikasi kalau dia membantu agar Sung Joon bisa ingat dan dia bisa menemukan Soo Yeon. Dan setelah dia bisa menemukan Soo Yeon, mereka bisa mengakhiri hubungan naas ini.
Seorang reporter dari Seongju Daily bernama Ryu Mi Rae, pergi ke RS dan hendak melakukan wawancara mengenai anak yang menerima pengobatan sel induk baru-baru ini. Resepsionis memberitahu dia tidak tahu apapun.
“Menurut laporan resmi baru-baru ini, saya dengan anak itu akan dipindahkan ke RS Sanyoung setelah diberikan injeksi keempat. Tapi, sepertinya sudah selesai diberi suntikan keempat, apa mungkin ada sesuatu yang tidak beres?” tanya Mi Rae.   
“Anda salah. Pasien sudah dipindahkan ke RS Sanyoung seperti yang direncanakan,” jawab resepsionis.
Mi Rae memberitahu kalau dia sudah ke RS Sanyoung tetapi dia hanya melihat hanya ada orang tua dikamar perawatan dan tidak ada anak kecil. Resepsionis jadi gugup dan berkata kalau dia keliru. Dia kan sudah bilang tidak tahu apa-apa. Mi Rae menatap curiga.
Dalam perjalanan pulang, Mi Rae bergumam kalau dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. “Dari tahan pengembangan pengobatan sel induk, setelah memilih uji coba, mereka secara ekstensif memanipulasi media. Tapi tiba-tiba, ada perubahan dengan sikap mereka. Apa yang sedang mereka sembunyikan?”
“Menurut pendapatku, percobannya sudah dinyatakan gagal, karena itulah mereka menyembunyikannya,” timpal Kim Ik Hong, rekan kerja Mi Rae yang menyetir mobil.
Ik Hong kemudian menasehati Mi Rae untuk tidak bekerja terlalu keras lagipula Mi Rae baru saja selesai menyelesaikan pemakaman ibunya. Kenapa dia sangat terosebsi dengan kasus ini?
“Sebenarnya, aku melakukan ini bukan karena aku reporter. Aku mendadak ingin tahu tentang masa lalu ibuku,” jawab Mi Rae. Ekspresinya penuh kesedihan.
Sung Joon dan Deuk Cheon tiba di stasiun bus Busan. Sung Joon melihat sekeliling stasiun dan ingat saat tunawisma memberikannya tiket dan menyeretnya pergi ke dalam bus. Deuk Cheon menyuruh Sung Joon untuk cepat mencari tunawisma tersebut dan mereka mulai melihat semua tunawisma yang ada di sekitar stasiun tetapi tidak ada yang mirip.

Sung Joon berusaha mengingat ciri-ciri tunawisma yang ditemuinya waktu itu. Dan dia ingat kalau tunawisma itu mengenakan sepatu yang berbeda di kaki kiri dan kanan. Dan dibawah stasiun, dia melihat ada seorang tunawisma yang tidur dengan ditutupi koran mengenakan sepatu berbeda di kaki kiri dan kanannya. Dia segera memberitahu hal itu pada Deuk Cheon.

Tepat saat itu, tunawisma yang sedang tidur itu berbalik. Itu dia, tunawisma yang memberikan tiket pada Sung Joon. Ketika tunawisma itu melihat wajah Sung Joon, dia segera kabur. Sung Joon dan Deuk Cheon segera mengejarnya. Namun, tiba-tiba, Deuk Cheon terjatuh dan dadanya terasa sesak. Deuk Cheon segera membantunya, tetapi Sung Joon menyuruh Deuk Cheon untuk segera mengejar tunawisma tersebut.
Tunawisma tertangkap oleh Deuk Cheon. Dia bergumam memintamaaf pada Deuk Cheon. Deuk Cheon malah bertanya apa tunawisma itu sudah makan? Tepat saat itu, Sung Joon berhasil menyusul mereka.
Deuk Cheon membelikan makanan untuk tunawisma itu dan menyuruhnya untuk segera makan. Dia juga menyuruh Sung Joon untuk makan supaya tidak jatuh seperti tadi. Sung Joon menurut dan menyurh Deuk Cheon untuk makan juga. Akhirnya, mereka bertiga makan bersama-sama. Tetapi, ternyata Deuk Cheon tidak makan, dia hanya meminum soju dan memberikan makanannya pada tunawisma tersebut.
Deuk Cheon mulai bertanya kenapa tunawisma itu memberikan tiket pada Sung Joon? Tunawisma langsung berhenti makan. Deuk Cheon menyuruhnya untuk lanjut makan, lagipula dia bertanya karena ingin tahu saja. Dia bahkan menuangkan soju untuk tunawisma tersebut.
“Katanya dia akan mengurangi 5.000 dollar jika aku membelikannya tiket dan memeriksa dia naik bus atau tidak,” ujar tunawisma tersebut.
“5000 dollar? Kau pasti punya hutang. Dengan siapa kau meminjamnya?” tanya Deuk Cheon.
“Begini… aku tidak bisa memberitahumu. Dengar, tidak masalah jika aku mati. Aku juga tidak layak untuk hidup. Tapi, anakku akan mati jika aku mengatakannya,” tangis tunawisma itu. “Jadi tolong jangan tanya lagi, ya?”
“Berapa umur anakmu?” tanya Deuk Cheon.
“Tahun ini, usianya 10tahun.”
Deuk Cheon mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan foto Soo Yeon. Dia memberitahu kalau putrinya berumur 12tahun. “Dia cantik, kan? Jika kau tidak memberitahuku, anakku akan mati.”
Dan kita tidak diperlihatkan apa yang dikatakan oleh tunawisma tersebut. Hanya Deuk Cheon yang bertanya, “Mereka meminjamkan uang dengan putrimu sebagai jaminannya?”
“Aku baru tahu… mereka menjual organ anak-anak. Aku sudah gila, kan? Aku bahkan tidak tahu itu,” ujar tunawisma itu penuh penyesalan.
Deuk Cheon emosi mendengarnya dan memukul tunawisma itu. Dia bertanya apa maksudnya dengan mereka menjual organ dengan menyuruh tunawisma memberikan tiket pada Sung Joon? Dimana mereka sekarang?
Tunawisma benar-benar tidak tahu dimana keberadaan orang yang menyuruhnya. Satu-satunya yang dia tahu hanyalah Dir. Baek. Mereka biasanya berbicara lewat telpon, dan hari itu, dia pertama kali bertemu dengannya. Dia meminta maaf.
Sung Joon bertanya kalau begitu dia pasti tahu nomor Dir. Baek. Tunawisma menjawab kalau dia menelponnya beberapa hari yang lalu, tetapi nomornya sudah tidak aktif. Tunawisma juga berlutut minta maaf dan tahu kalau dia layak mati. Tapi, tolong bantu dia untuk menyelamatkan putrinya, Joo Ha. Dia akan mati jika dia tidak melakukan apapun.
“Aku tahu. Ada cara untuk menemukan nomor telponnya,” ujar Sung Joon pada Deuk Cheon.
Dan bagaimana caranya?
Sung Joon pergi ke toilet umum dan memeriksa bilik toilet. Bilik toilet penuh dengan coretan dan tempelan kertas promosi. Salah satunya kertas mengenai penjualan organ. Dia mengambil kertas tersebut dan memperlihatkannya pada tunawisma, dan tunawisma mengenali kalau nomor telpon yang tertera adalah nomor lama Dir. Baek yang sudah tidak aktif. Sung Joon menenangkannya dan menyuruhnya untuk mencari kertas dengan bentuk yang sama dan pasti ada nomor telpon yang baru disana. Tunawisma setuju. Sementara, Deuk Cheon memandang Sung Joon curiga.

Sung Joon mencari di setiap toilet umum dan menemukan kertas penjualan organ. Mereka mencoba menghubungi setiap nomor yang mereka temukan. Tunawisma yang menelpon dan memperkenalkan diri sebagai Ddal Soo.
Setelah sekian banyak percobaan, akhirnya mereka berhasil menelpon seseorang yang mengenal Ddal Soo. Ddal Soo memberitahu kalau dia akan membayar hutangnya kembali. Orang yang di telpon, memberitahukan kalau ada seorang bernama Ddal Soo yang menyebutkan nama Dir. Baek berkata hendak membayar kembali hutangnya. Dir. Baek segera menerima telpon tersebut. Mereka mulai bernegoisiasi, dimana Dir. Baek menyuruh Ddal Soo membayar lebih dari 5.000 dollar jika ingin putrinya kembali. Ddal Soo mengerti dan berkata akan membayarnya besok dan meminta bertemu. Dia juga bertanya apa besok harus menelpon dir. Baek ke nomor ini lagi? Dir. Baek menyuruhnya untuk mencatat nomornya yang lain.
Hyung Shik dan Sung Joon sudah tiba di depan kantor kejaksaan tetapi mereka takut untuk masuk. Mereka tahu kalau Jo Hye memanggil mereka pasti untuk menanyakan tentang Deuk Cheon. Tetapi, mereka saja tidak tahu kabar dari Deuk Cheon.
“Kau… kenyataan kalau Kepala Jang menelponku sebelum dia menyerang bus tersebut, jangan beritahukan pada Jaksa Choi, mengerti? Kita tidak bisa membiarkan dia menipu kita lagi,” perintah Hyung Shik pada Sung Joon.
Mereka sudah masuk ke dalam menemui Jo Hye dan bawahannya yang bernama, Koo Bong Seok. Hyung Shik bahkan berpura-pura kaget kalau  ternyata Deuk Cheon ikut terlibat dalam pelarian Man Choon dan Sung Joon dan hal itu ditutupi oleh Jo Hye. Bong Seok menjelaskan kalau Jo Hye lah yang mengubah kasus ini menjadi kasus tertutup dan membuat semua orang diam-diam menyelidikinya.
“Aku yakin Ketua Jang masih hidup. Aku percaya itu. Kalian harus menyakinkan dia untuk datang,” ujar Jo Hye. “Jika ternyata dia bersama dengan buronan itu, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu mempertahankan pekerjaannya tanpa adanya konsekuensi. Kepala Jang sekarang sedang tidak waras. Kalian berdua harus membantunya, mengembalikan akal sehatnya, bukan begitu?” tanya Jo Hye.
Hyung Shik menghela nafasnya. Dia sepertinya ragu harus melakukan apa. Dia jelas tidak mau tertipu Jo Hye lagi tetapi tawaran Jo Hye menggiurkan. Ponselnya kemudian berbunyi, telepon dari nomor tidak dikenal. Hyung Shik segera mematikannya tetapi Jo Hye bertanya kenapa Hyung Shik tidak menjawabnya? Hyung Shik tertawa canggung dan berkata itu hanya telepon spam.
“Aku harap kau membuat keputusan yang tepat. Ini kesempatan terakhir yang akan kuberikan pada kalian,” tegas Jo Hye.
Yang menelpon adalah Deuk Cheon dengan telpon umum. Dia memberitahu kalau teleponnya tidak di angkat dan Sung Joon menyarankan agar Deuk Cheon menelpon kembali. Deuk Cheon menolak ide Sung Joon. Dia yakin kalau Hyung Shik akan menelponnya kembali karena Hyung Shik pasti tahu itu telpon darinya.
Sung Joon terus memegang lengannya yang terluka dan darahnya sudah merembes hingga keluar bajunya. Deuk Cheon menanyakan keadaannya. Sung Joon memberitahu kalau mereka tidak bisa mengabaikan lukanya karena itu terlalu dalam dan pendarahannya tidak kunjung berhenti. Deuk Cheon menyuruh Sung Joon untuk bertahan sebentar lagi karena dia yakin Hyung Shik akan segera menelpon.

Dan benar, tidak lama, telpon umum berbunyi. Telpon dari Hyung Shik. Hyung Shik sangat lega karena Deuk Cheon masih hidup. Soo Ho juga merasa lega. Deuk Cheon meminta maaf karena membuat mereka khawatir tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia mau meminta bantuan mereka.

Dikantornya, Jo Hye bertanya pada Bong Seok kalau 051 itu adalah kode area Busan, kan? Tadi, Jo Hye sempat melihat nomor yang menelpon Hyung Shik di awali dengan angka 051. Dia kemudian mencatat nomor yang dilihatnya dari ponsel Hyung Shik dan menyuruh Bong Seok untuk mencari nomor tersebut. Bong Seok sampai kagum karena ingatan Jo Hye sangat bagus tetapi Jo Hye tidak terkesan dengan pujian Bong Seok. Dia menyuruh Bong Seok untuk segera mencarinya dan juga selidiki ID Hyung Shik dan Soo Ho dan lihat apa saja yang dicari mereka di web. Dia yakin kalau Deuk Cheon pasti akan menelpon mereka untuk meminta bantuan. Bong Seok mengerti.
 

0 comments

Post a Comment

Tolong Tinggalkan Komentar, Kritik, ataupun Saran untuk Perubahan yang Lebih Baik!!! ^^

Powered by Blogger.