Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 1 – 1



Company name : Citizen Kane

Disebuah gedung yang sangat indah. Diadakan sebuah pesta pernikahan Khemika & Sharkrit. Disebuah ruangan besar, baju pengantin masih tergantung dan disana seorang pengantin wanita sedang duduk berdandan, bersiap-siap untuk pernikahannya.

Sedangkan pengantin pria yang berada ditempat lain, menunggu sambil tersenyum. Tapi setelah itu, ia mulai melepaskan bunga dijasnya, dasi kupu-kupu yang dipakasi dilehernya, serta jas miliknya.


Akhirnya pengantin wanita pun telah siap memakai baju pengantin nya dan menunggu sang kekasih. Sedangkan didalam lift yang bergerak turun, pengantin pria berkata dalam hatinya,”Malam ini, keluarga Merhasit akan dipemalukan.”

Acara pernikahan pun dimulai. Semua tamu undangan telah duduk dan menanti kedatangan kedua pengantin. Dan diatas panggung, kedua pembawa acara pun mulai berbicara.

Perlahan-lahan beberapa tamu undangan mulai gelisah dan melihat ke arah jam tangan mereka, lalu beberapa dari mereka pun mulai pergi meninggalkan pesta.

Seorang pria masuk dan melihat keadaan yang tidak baik itu. Lalu seorang pegawai memberitahunya bahwa pengantin pria belum tiba juga.

Diruang tunggu. Pengantin wanita dan keluaga mulai merasa gelisah. Lalu pria tadi masuk dan memberitahu dia,”Aku belum melihat Khun Dilok.”

Mereka semua mulai merasa gelisah, tapi seorang pria lain masuk dan memberitahu mereka juga,”Dia tidak ada diruangannya.”

“Mungkin dia ada urusan yang harus diurus,” bela pria tadi.

“Urusan apa yang lebih penting daripada pernikahannya?! Bahkan Best man nya saja tidak tau kemana teman baiknya itu pergi,” balas pria lain itu. Lalu ia berbalik dan berkata,”Pa, aku pikir kita harus membatalkan pernikahannya. Jangan biarkan ini menjadi lebih memalukan lagi.”

Mendengar itu, pengantin wanita langsung menolak, karena ia yakin pengantin pria pasti akan datang.


Seorang wanita masuk kedalam ruangan sambil tersenyum. Jadi pria tadi langsung bertanya kepadanya,”Nee. Apakah kakakmu sudah menjawab telponnya?”

“Belum. Tenang saja. Pernikahannya kan hanya sedikit telat.”

Adik perempuan pengantin wanita membalas perkataan Nee,”Apa yang kamu maksud dengan sedikit telat? Ini sudah tiga jam,” katanya, tapi sambil tertawa. Jadi kedua orang tuannya segera memberikan tatapan tajam padanya.

Dua orang pria masuk kedalam ruangan. Lalu pria berkacamata bertanya,”Dimana pengantin pria?”
Pengantin wanita pun mulai merasa sangat gelisah.


Ditempat lain, pengantin pria sedang duduk sambil tersenyum menatap jam ditangannya. Lalu pada saat itu seorang wanita datang ke gedung pernikahan, tapi ketika itu ia heran melihat para tamu yang sudah mulai pulang, jadi ia berpikir bahwa ia telah terlambat.


Pengantin wanita menatap kearah kue pernikahannya dengan pandangan sedih dan terluka. Ia berdiri ditengah ruangan yang telah kosong. Sedangkan seluruh keluarganya berdiri disamping ruangan melihatnya.

Pengantin pria berjalan dengan tegap melalui lorong gedung.

Ditempat lain, wanita yang baru tiba tadi juga berjalan masuk melalui lorong gedung.


Sedangkan penganti wanita dengan sedih, berjalan menuju ke arah panggung nya. Dan seluruh keluarganya hanya tetap berdiri memperhatikan dia dengan sedih, kecuali si adik perempuan yang malah tertawa.

Pengantin pria yang melihat kedatangan wanita tadi, langsung berbalik dan berjalan dengan cepat. Sedangkan wanita tadi sama sekali tidak menyadari itu.

Wanita tadi mengeluarkan ponselnya,”Trai, aku sudah disini. Aku baru saja mendarat. Dilantai berapa? 15 kan? Okay.”

Pria lain yang menerima telpon dari wanita tadi, berusaha mengatakan sesuatu,”P,da.” Tapi sayangnya wanita tadi telah mematikan telponnya.

Pengantin wanita yang telah teramat sedih jatuh pingsan diatas panggung. Melihat itu seluruh keluarga langsung merasa panik dan berlari kearahnya.


Wanita tadi (P’da) baru saja akan masuk kedalam lift, tapi sayangnya ia terlambat. Dan ketika itu penganti pria yang berada didalam lift sebelah, mempersilahkan wanita tadi masuk. Tampaknya P’da tidak mengenali penganti pria, karena dengan sikap biasa ia masuk kedalam lift.

“Aku pikir elevator ini menunggu kamu,” kata pengantin pria.

“Itu karena kebetulan kamu menghentikannya untukku,” balas P’da.

“Tidak ada kebetulan didunia ini,” kata pengantin pria lagi secara misterius, sehingga P’da berbalik dan menatap dengan heran, tapi pengantin pria hanya tersenyum dan lanjutnya,”Kamu pasti memiliki acara penting malam ini.”

P’da langsung balas tersenyum,”Iya. Ini adalah pernikahan adikku.”

Saat lift telah berhenti, P’da pun keluar, tapi sebelum itu ia berbalik dan akan berterima kasih. Tapi pengantin pria menghentikannya dan berkata,”Aku berharap kamu tidak melewatkan acara penting milik adikmu. Senang bertemu kamu.”


Pria tadi masih coba menelpon pengantin pria, tapi tidak bisa. Dan Nee pun mengingatkannya,”Aku udah bilang P’Krit mematikan ponselnya.”

Pria lain yang sudah kesal langsung menyuruh pria tadi,”Jangan menelpon dia lagi! Temanmu mungkin tertabrak mobil dan sudah mati. Itu mengapa ia tidak bisa datang ke pernikahannya,” katanya dengan nada sinis. Tapi Nee langsung membela kakaknya Krit.

“P’Krit mungkin baru sadar disaat terakhir. Dia baru sadar bahwa seharusnya ia tidak menikahi kamu. Lihat Khun Khem, aku akan jujur disini. Menikahi seseorang berarti kamu harus hidup dengannya selama hidupmu. Khususnya dengan kamu? Aku tidak berpikir dia bisa melakukan itu.” kata Nee langsung ke arah Khem. Sehingga mereka menjadi kesal mendengarnya.


Pada saat itu, pria tadi menerima telpon dari Krit, tapi Nee langsung merebut ponselnya dan menspeaker kan panggilan tersebut. Dan Khem pun langsung berdiri untuk mendengarkan juga.

“Ada apa Na? Kamu menelpon ku berkali-kali.”

“Khun Krit, apa kamu baik-baik saja? Dimana kamu? Apa kamu sadar apa yang kamu barusan lakukan?!” tanya Khem langsung.

Ditempat lain, Krit tersenyum,”Aku tau apa yang aku lakukan. Itu kalian yang tidak tau. Khun Khem, aku tidak bisa menikahi kamu. Dan kamu akan tau mengapa.” Lalu ia mematikan telponnya.


P’da masuk kedalam ruangan dan melihat situasi yang ada dengan kebingungan. Jadi ia langsung menghampiri mereka dan bertanya, lalu dengan sedih Khem berjalan ke arahnya serta pingsan lagi. Ayah Khem pun juga sama, tiba-tiba ia merasa jantungnya sakit dan jatuh.

Situasi menjadi kacau dan panik.

Ditempat lain, Krit mengangkat gelas nya dan tersenyum,”Cheers!”


Dikamar. P’da menyemangati Khem yang sedih, ia menyuruh Khem untuk melepaskan cincinnya dan menganggap ini adalah mimpi buruk. Tapi Khem tidak mau, karena ia masih tidak tau kenapa Krit berbuat seperti itu kepadanya.

P’da berjanji kepada Khem,”Aku akan menemukan jawabannya untuk kamu.” Katanya dengan meneteskan air mata juga, lalu ia memeluk Khem.


Digedung acara. Suasana terasa sangat tidak enak, tapi si adik perempuan malah berkata,”Kapan mereka  berkenalan dan mereka baru berkencan selama satu bulan dan sudah mau menikah? Pertamanya aku mengira Khun Khem hamil,” katanya.

Mendengar itu Ayah Khem langsung menyuruhnya berhenti berbicara. Dan suasana makin terasa tidak enak.


Setelah menemani Khem sambil tertidur, P’da masuk kembali kedalam ruangan dan lalu menyuruh mereka,”Bibi Mon, aku mau Chat naik keatas dan menjaga Khem.”

“Tentu Khun Yada. Chat akan menjaga Khun Khem kapanpun,” balas wanita yang berdiri disamping Ayah Khem. Lalu menatap kearah anaknya (Chat) yang tampak enggan.

“Jangan berkata seperti itu, bagaimanapun kita adalah keluarga,” balas P’da (Yada).

“Bagaimana kita mengurus Sharkrit?” tanya pria tadi.

“Bibi Mon bisakah kamu membawa Ayah ke atas? Trai (pria tadi) pergi ke management hotel, bilang ke mereka untuk menutup semuanya. Untuk kamu (pria lain), kamu boleh pergi, ini masalah keluargaku. Kami yang akan menanganin nya sendiri. Dan dimana adiknya?” balas Yada.


Mereka berdua menemui Nee dan menanyai keberadaan Krit, tapi Nee menjawab bahwa ia tidak tau dan malah mengatai mereka. Pada saat itu Trai yang telah menjalankan tugas dari Yada datang dan balas mengatai Nee.

Nee tetap tidak mau memberitahu mereka dan berjalan pergi. Jadi Yada menyuruh Trai untuk segera mengikutinya, karena ia tidak percaya kepada Nee.


Pria lain tidak mau pergi dan mengikuti Yada, karena ia merasa bahwa ia juga bertanggung jawab. Karena yang membawa Sharkrit masuk kedalam keluarga Yada adalah dia.

Mon menampar Chat karena telah begitu bodoh berbicara seperti itu tadi,”Tidak mudah untuk mendapatkan dia sebagai suamiku! Apa kamu mau kembali kekehidupan lama yang miskin? Jadi?”

“Tidak. Tapi tunggu saja, aku akan menemukan suami yang lebih kaya daripada kamu!” balas Chat.

“Aku mengira aku telah menjadi Nyonya, tapi aku malah harus menjaga pasien sakit 24 jam seperti ini,” kata Mon, lalu menyuruh Chat menjaga Khem, tapi Chat tidak mau.


Khem tepat berada didekat belakang mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka yang selanjutnya menjelek-jelekan dia.

“Laki-laki itu tidak pernah mencintai dia, itu alasan mengapa dia melarikan diri. Kalau jadi dia, aku sangat malu. Jika itu aku, aku akan melompat ke laut dan bunuh diri.” Kata Chat.

“Melompat ke laut itu begitu sulit. Ini akan menjadi berita. Jika itu aku, aku akan mati diam-diam ditempat tersembunyi, jadi itu tidak akan menjadi masalah untuk keluargaku. Aku tidak akan menjatuh reputasi keluargaku lebih lagi.” Sambung Mon.

Setelah mendengar itu, Khem terlihat sangat terluka dan pergi meninggalkan kamarnya.


Trai mengikuti Nee yang akan pergi meninggalkan hotel.  Sedangkan pria tadi masih mengikuyi Yada , jadi Yada terpaksa berhenti dan lalu berbalik,”Khun Tassana.”

“Aku tidak bisa pergi. Aku sudah bilang ini kesalahanku juga.”

“Kemudian biarkan aku melihat foto temanmu? Aku akan pergi dan meminta pihak hotel untuk mengecek kamera cctv mereka. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.”

“Aku tidak punya foto Krit .”

“Khem berkata hal yang sama padaku. Aku meminta foto dari dia, tapi tidak pernah ada sampai hari pernikahan ini. Bahkan tidak ada satupun fotonya di website perusahaan kamu. Bukankah dia Executive Board Chairman? Siapa teman kamu, Khun Tassana?” tanya Yada sambil berjalan mendekat dan menatap lurus ke mata Tassana.

Tassana terdiam dan tidak bisa menjawab, lalu pada saat itu Yada mendapatkan telpon dari Chat yang membuatnya terkejut.


Dikamar. Yada dengan panik menanyakan kepada mereka berdua dimana Khem pergi, tapi bibi Mon tidak bisa menjawab. Sedangkan Chat beralasan bahwa ia sedang berada dikamar mandi, lalu Bibi Mon pun ikut bilang bahwa bisa saja Khem sedang berjalan-jalan.

Yada tidak terima alasan dari mereka, apalagi saat ia tau bahwa Khem pergi tanpa membawa barang-barangnya. Lalu Chat pun berpendapat bahwa bisa saja Khem pergi bunuh diri. Tapi tepat ketika itu Ayah masuk kedalam kamar.

“Pa, kamu minum ya? Dokter bilang kamu tida boleh minum,” kata Yada khawatir, ketika Ayahnya masuk dan ia menyadari bahwa Ayahnya baru saja minum-minum.

Tanpa memperdulikan kecemasan Yada, Ayah langsung bertanya pada mereka,”Aku tanya siapa yang mau bunuh diri?”

“Tidak. Tapi Khun Khem menghilang,” kata Yada untuk menenangkan Ayah. Tapi Chat malah memberitahu bahwa ia takut Khem pergi untuk bunuh diri.

Mendengar itu Ayah terkejut dan ia tampak kesakitan, lalu jatuh pingsan. Jadi dengan panik Yada mulai memanggil-manggil Ayahnya dan Tassana menyuruh mereka untuk segera menelpon ambulance.


Nee tampaknya mengetahu tentang mobil Trai yang mengikutinya dari belakang dan ia tersenyum melihat itu.

Saat Nee berhenti dan turun dari mobilnya, Trai segera menanyainya,”Kamu tau aku mengikuti kamu. Kamu kembali untuk melihat kakakmu kan. Itu mengapa kamu tidak pergi kemanapun. Pada akhirnya kamu kembali ke hotel.”

“Tidak. Aku baru sadar semua kamar terbuka untuk anggota keluarga pengantin, jadi aku kembali dan ingin menghabiskan malam disini. Di hotel bintang lima,” balas Nee menyangkal.


Ketika itu Ayah dibawa menggunakan ranjang ambulance dan saat melihat itu Trai menghampiri mereka. Lalu Yada segera menyuruhnya,”Trai, bagus kamu ada disini. Bibi Mon, Chat, kalian ikut dengan Trai. Aku akan pergi naik ambulance.”

Setelah Yada pergi dengan cepat, Chat mengeluh kepada Ibunya kalau ia belum sempat mencuci mukanya. Dan mendengar itu dengan tegas Trai berkata,”Jika kamu mau ikut, naik saja taxi.”


Dibelakang mereka Nee malah memberitahu bahwa ia mau check-in. Lalu dengan kesal, Trai segera berjalan pergi, tapi Bibi Mon segera menarik tangan Chat untuk ikut.

Pada saat itu, Nee berbalik dan menatap kepergian mereka dengan raut cemas. Lalu ia menelpon Krit.

“Ayah atau anak?” kata Krit sebagai kode.

“Khun Dilok dibawa ke rumah sakit. Dimana kamu?” tanya Nee cepat.

“Ketika aku membutuhkan bantuanmu, aku akan menelponmu,” balas Krit tenang, lalu menutup telponnya. Setelah itu ia kembali memandangi pemandangan malam dari tempatnya dan tersenyum.

Sedangkan Yada terlihat sangat cemas, karena tampaknya kondisi Ayahnya makin parah. Pada saat itu Trai datang, tepat ketika situasi sulit Ayahnya telah berlalu.

“Ayah selamat.” Beritahu Yada, lalu menanyai dimana Bibi Mon dan Chat. Dan ketika itu mereka datang dengan Chat yang masih mengeluh masalah belum sempat mencuci wajahnya.


Dengan dingin Yada menatap kearah mereka dan memberitahu,”Dokter bilang, Ayah selamat sekarang. Tapi dia masih harus tinggal disini selama dua hari lebih untuk mengecek kondisinya. Tekanan darah Ayah naik. Dia stress dan minum, jadi ia mengalami syok. Jika kalian melakukan apa yang aku bilang, ini tidak akan pernah terjadi.”

Bibi Mon meminta maaf dan beralasan. Sedangkan Chat malah membalas dengan mengatakan bahwa ini sudah terjadi, jadi mereka harus mencari solusinya, bahkan ia menawarkan untuk menyebarkan foto Khem sehingga teman-temannya bisa bantu berbagi dan menemukan Khem.


Bibi Mon terlihat mulai gelisah dengan sikap anaknya dan tatapan tajam Yada. Lalu pada saat itu Yada memegang tangan Chat dengan erat,”Berbagi dan mengekpos, tidak sama. Hanya kita yang akan tau tentang masalah keluarga kita. Siapapun yang berusaha untuk menghancurkan reputasi Khem, tidak bisa hidup dibawah langit yang sama dengan ku. Apa kalian jelas?”

Takut akan tatapan dan perkataan Yada, mereka berdua pun hanya bisa mengiyakan saja.

Tassana sedang dalam perjalanan untuk membantu keluarga Yada menemukan Khem yang kabur. Dan ketika itu ia menerima telpon, jadi ia mengangkat nya.

Orang yang menelponnya adalah seorang wanita,”Apa kamu sudah menemukan Khun Khem, P’Na?”

“Belum.”

“Kamu mungkin tidak akan menemukan dia dengan pergi tanpa tujuan seperti itu. Mengapa kamu tidak pergi kemana biasanya Khun Khem pergi ketika ia merasa sulit atau tempat yang ia suka kunjungin dengan P’Krit.”

“Kamu terlalu banyak membaca novel Kwan.”

“Ketika seorang wanita terluka, dia suka untuk membuat dirinya lebih terluka.”

“Tidurlah. Aku serius. Pergi tidur,” kata Tassana lalu mematikan panggilan telponnya.

Didekat jembatan. Masih memakai gaun pengantinnya, Khem berlari sambil menangis dengan sedih, lalu ia berhenti sejenak dan melepas bunga dirambutnya. Khem menangis terus dan saat ia melihat cincin dijarinya, ia teringat.

Krit memberikan cincin kepada Khem dan melamarnya,”Maukah kamu menikah denganku Khem?”

Mereka berdua sedang berada ditaman yang penuh dengan bunga serta tampak romantis. Dan ketika dilamar seperti itu, tentu saja, Khem merasa sangat senang sekali.
“Sekarang atau tidak pernah,” kata Krit sambil tersenyum kepada Khem. Jadi dengan malu-malu Khem mengangguk, lalu Krit memasang cincin itu dijarinya dan kemudian mencium tangan Khem.

Dengan kesal, Khem membuang cincinya kedalam laut. Lalu ia mulai naik ingin meloncat juga, tapi tepat saat itu, Tassana tiba dan meneriaki namanya. Ia meminta Khem untuk tidak berpikiran pendek dan melompat.

Khem yang merasa sedih, tidak peduli dan akan naik untuk melompat. Tapi Tassana berteriak dan menyuruh Khem untuk memikirkan keluarganya, lalu berjanji bahwa ia akan membawa Sharkrit untuk menjelaskan semuanya kepada Khem nanti.

Khem yang tetap mau melompat, malah gagal, saat kakinya terpeleset dan ia terjatuh ketanah. Lalu Khem bangkit dan berlari, disusul oleh Tassana yang terus memanggilnya.

Yada teringat ketika dulu Khem memberitahu tentang bahwa ia telah dilamar dengan sangat senang melalui video chat. Pada saat itu, Yada menanyakan tentang apakah Krit merupakan pria yang baik atau bukan, sampai Khem mau menikah dengannya.

“Aku hanya tidak suka satu hal. Khun Krit tidak mau berlutut dan melamarku,” balas Khem dengan bercanda.

“Khem, disana ada sesuatu yang lebih penting daripada itu. Bahkan walau ia adalah teman Khun Tassana, pemilik perusahaan yang menjadi partner dengan kita. Tapi itu tidak menjamin bahwa ia adalah orang yang baik. Jangan buat keputusan apapun sampai aku kembali. Beri aku waktu dua minggu,” kata Yada mengingatkan adiknya itu.
Khem menyetujui hal itu. Lalu Yada meminta foto pacar Khem, tapi Khem menolak dan menyuruh kakaknya itu untuk melihat langsung saja.

Khem berteriak memanggil Krit dan memutar laptopnya, tapi sayangnya wajah Krit tertutup oleh botol minum dan lalu saat Krit mendekat, Krit malah menutupi kamera dengan bunga ditangannya. Lalu saat Khem mengambil bunga itu agar pandangan kakaknya tidak tertutupi, Krit malah bercanda dan tidak membiarkan Khem mengambil bunganya. Sehingga akhirnya, Yada tidak bisa melihat sama sekali wajah pacar adiknya.
Krit mendekati Yada yang sedang mengenang itu dan Yada tanpa curiga membiarkan Krit duduk disebelahnya, tapi ia tidak menerima kopi dari Krit.

“Sebenarnya, tempat ini begitu banyak kamera keamanan. Jika aku meletakan obat dalam kopi ini, aku tidak yakin bagaimana aku akan membawa kamu keluar dari sini tanpa… mm.. tidak ada yang melihat,” jelas Krit.

“Kemudian mungkin, kamu akan menyamar menjadi staff rumah sakit. Dan memakaikan pakaian pasien padaku, lalu membawaku dengan kursi roda. Mendorongku ke ruangan laundry dibelakang rumah sakit dan cerita berakhir,” kata Yada.
Lalu Krit memuji selera humor Yada serta mulai bertanya. Jadi Yada mulai bercerita tentang Ayah dan menanyakan Krit balik.

“Pamanku. Sebenarnya bukan benar-benar pamanku. Dia teman dekat Ayahku. Dekat, hingga mereka bisa mati satu sama lain. Pamanku berada diluar bahaya juga,” jawab Krit dengan kata yang misterius.

Saat mengejar Khem, Tassana melihat mobil melaju cepat dijalan. Jadi dengan segera ia berlari dan menyelamatkan Khem,  untungnya mereka tidak apa-apa, walaupun si pengemudi mobil memarahi mereka.

Khem masih menangis dan Tassana berusaha menenangkan serta menyadarkannya untuk tidak melakukan itu. jadi dengan sedih Khem memeluk Tassana dan melanjutkan tangisannya.

Yada berdiri dan sedikit menjauh, saat ia mendapatkan telpon dari Trai tentang Khem yang belum ditemukan, jadi karena bingung apa yang harus dilakukan lagi, Yada menyuruh mereka untuk pulang duluan. Sedangkan ia akan berjaga.

Krit yang mendengar itu mendekatinya,”Menunggu sangat menyiksa.”

“Iya. Sangat menyiksa. Apapun yang kamu tunggu, kabar baik ataupun kabar buruk.”

“Tapi pada akhirnya, ketika penantian itu berakhir, kita kan tau bahwa itu bernilai. Jika itu berjalan sesuai rencana.”
Yada berbalik dan menyeka air matannya, lalu menceritakan tentang pernikahan adiknya yang batal hari ini. Lalu berpura-pura polos, Krit meminta maaf dan bertanya tentang apa yang akan dilakukan oleh Yada.

Dengan tanpa curiga, Yada menceritakan segalanya tentang perasaannya, yang merasa bersalah, karena terlalu fokus bekerja. Dan Khem yang tidak menepati janji untuk menunggunya. Serta pengantin pria (Krit) yang bertindak misterius dan mempermainkan hidup orang lain.

“Sharkrit adalah seorang psikopat.” Kata Yada dengan nada sangat marah.

Krit diam mendengatkan itu semua, lalu bertanya,”Jika kamu bertemu dengannya. Apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan membuat dia berlutut didepan adikku. Didepan keluargaku untuk meminta maaf.”

Krit menyemangati Yada lalu melangkah untuk pergi, tapi sebelum itu Yada menghentikannya serta menyemangati paman Krit agar cepat sembuh.

Setelah masuk kedalam ruangan. Krit berbalik dan memperhatikan Yada sekilas.

Didalam kamar perawatan yang gelap. Ayah melihat Krit berjalan masuk kedalam dan emosinya pun meningkat, lalu ia menanyakan tentang alasan Krit perbuat seperti itu kepada Khem.

“Sekarang apa kamu tau, perasaan hidup dengan menderita,” kata Krit dengan ekspresi dingin.

Ayah marah dan mau menarik kerah kemeja Krit, tapi ia terlalu lemah dan akhirnya tidak sadarkan diri. Pada saat itu suster masuk dan menyalakan lampu, tapi Krit sudah tidak ada disana, malahan dengan cepat suster segera memanggil dokter dan menanganin pasien.

Diluar kamar, Krit menatap tajam,”Jangan mati dulu. Itu akan lebih menyenangkan,” katanya, lalu berjalan pergi sambil tersenyum. 

1 Comments

  1. kak, suka bnget sama sinopsisnya,
    kak mua tnya, caranya untuk bisa tau subtitlenya gimna ya?
    sedangkan kalau lihat dari chanel resminya tidak tersedia translatenya,


    terimakasih

    ReplyDelete
Previous Post Next Post