Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 8 - 1


  Company name : Citizen Kane


Perlahan-lahan Krit menarik kepala Yada untuk semakin menunduk dan mendekat padanya. Krit sendiri sama, ia menaikan kepalanya supaya lebih dekat lagi pada wajah Yada. Dan tepat sebelum wajah mereka menjadi sangat dekat, Yada langsung memalingkan wajahnya.




Krit pun bangkit duduk, lalu ia menahan Yada yang mau pergi. Dan sekali lagi, ia mendekatkan wajahnya pada Yada, tapi karena Yada tampak tidak siap, maka Krit tidak berusaha untuk menciumnya.

Melainkan dengan lembut, Krit membawa Yada untuk tidur berbaring bersamanya.




“Khun Sharkrit. Kita benar-benar keluarga, kan?” tanya Yada, memecahkan keheningan.

“Ya. Mengapa kita tidak bisa?”

“Karena kamu barusan bilang kamu hanya ingin badanku.”

“Aku ingin badan dan hatimu,” balas Krit sambil meatap lurus pada Yada.




Yada sendiri ketika mendengar jawaban Krit, Yada tersenyum kecil dan lalu menutup matanya. Setelah itu, dengan perlahan, Krit mulai mendekat lagi, berusaha untuk mencium Yada.

Sayangnya, sebelum bibir mereka bersentuhan. Yada membuka matanya dan turun dari tempat tidur, karena ia belum siap.




“Jika kamu tidak bisa tidur, maka kamu bisa minum segelas susu hangat. Itu akan membantu. Selamat malam,” kata Yada dengan cepat, setelah itu berlari keluar dari dalam kamar.

Dan karena sikap Yada yang seperti itu, Krit jadi geli sendiri dan kemudian ia tertawa.




Sambil menutup mata Kwan, Tassana menuntunnya ke taman rumah yang luas. Dan ketika akhirnya mereka telah tiba, Tassana membuka kain yang menutupi mata Kwan.

Taman itu dihias dengan sangat indah. Lilin-lilin kecil yang bersinar sangat indah, diletakan diatas tanah. Dan melihat itu, Kwan merasa sangat terharu. Karena semuanya sangat indah.




Tepat ketika itu, Khem datang sambil membawakan kue – kue kecil yang diletakan diatas piring dan kue itu berhiaskan lilin kecil berbentuk huruf H – B – D. Yang berarti Happy Brithday.

Mendengar ucapan itu dari Khem serta Tassana, serta kejutan yang mereka buat untuknya. Kwan menjadi sangat bahagia. Dan dengan penuh kasih, ia memeluk Tassana.




Lalu setelah itu, Khem menyerahkan kue tersebut pada Kwan. Dan menyuruh Kwan agar membuat make a wish dulu sebelum meniup lilinnya. Jadi Kwan pun menurut, ia mulai menutup matanya, berdoa dan lalu setelah itu ia meniup lilinnya.




Setelah Kwan meniup lilin dikuenya. Tassana serta Khem langsung bertemu tangan untuknya. Lalu karena penasaran, maka Tassana pun menanyai Kwan, apa yang diharapkan/didoakan oleh Kwan.

“Aku berharap bisa segera memiliki keponakan,” kata Kwan memberitahu. Lalu secara bersamaan Khem serta Tassana menyebutkan nama Kwan, menegurnya.

“Apa kamu akan melewati langkah itu, Kwan?” kata Tassana sambil melirik kearah Khem.

“Kalian terlalu lambat sih,” balas Kwan. Lalu ia meminta hadiahnya pada mereka berdua.





Tapi karena mereka berdua, sama-sama tidak ada membawakan hadiah untuknya. Maka Kwan meminta agar mereka memberikan ciuman dipipinya. Dan sambil mengembungkan pipinya, Kwan menunggu mereka.





Dan dengan agak malu-malu, Tassana dan Khem pun mendekat untuk mencium pipi Kwan. Tapi dengan usil, Kwan malah melangkah mundur. Sehingga tanpa sengaja, hidung Khem serta Tassana jadi cari bersentuhan.

Kaget karena hal itu, mereka berdua saling terdiam, menatap satu sama lain. Dan dari belakang, Khem bersorak, karena rencananya sukses, hadiah untuk ulang tahunnya.





“Kwan, kamu nakal ya,” kata Tassana sambil memberikan kode mata pada Khem. Setelah itu, secara bersamaan mereka menyerang Kwan. Mereka merebut kue Kwan. Berlari dan menghindari Kwan yang ingin mengambil kembali kuenya.

Dan bertiga, mereka tertawa dengan riang. Serta bermain-main. Terakhir mereka berbaring bersama. Kwan dikanan, Khem ditengah, dan Tassana di kiri.



“Terima kasih. Ini adalah ulang tahun yang terbaik. Aku bisa melihat bintang-bintang. Aku bisa mencium wangi bunga. Ini apa yang disebut kebahagiaan,” kata Kwan, mengunkap kan rasa terima kasih dan bahagiannya.




Tassana pun tampak sama bahagianya seperti Kwan. Dan sambil tersenyum, ia memandangin Khem, serta berterima kasih.

“Aku lebih bahagia daripada Khun Kwan,” balas Kwan sambil tersenyum. Tapi setelah itu, tiba-tiba saja raut wajah Khem berubah, ia tampak sedih. Ia memberitahu Tassana bahwa ia tidak mau pulang ke rumah, karena rumahnya bukanlah rumah lagi.




“Ketika kamu bahagia, berbahagialah sepenuhnya dan jangan pikirkan tentang hal lain. Kita tidak tau kapan kesedihan akan mencapai kita,” kata Tassana.

“Selama kamu baik padaku, tidak ada yang mengecewakan. Apapun yang terjadi padamu, ceritakan padaku. Jangan menyimpan rahasia ya,” balas Kwan.





Setelah itu dengan perlahan, Tassana menggerakan tangannya dan menggenggam tangan Khem. Dan sambil tersenyum, Khem kembali menatap kearah langit. Begitupun dengan Kwan yang melihat itu, ia tersenyum dan menatap kembali ke langit. Sedangkan Tassana tetap menatap pada Khem.

Perasaan sakit dan tersiksa akan berlalu dan dilupakan

♪ Dan sebuah hari baru akan datang ♪

♪ Setiap hari aku bernafas, betapapun sakitnya aku dan penuh air mata ♪

♪ Disana ada sebuah harapan yang aku nantikan ♪

♪ Pasti akan ada hari dimana aku bisa menganggumi kepahitan yang akhirnya memudar ♪

♪ Suatu hari, ketika saatnya, suatu hari selanjutnya, air mata akan habis ♪




Dipagi hari. Yada menyiapkan kopi untuk Krit dan menanyakan apakah Krit bisa tidur dengan nyenyak kemari malam. Dan sambil tersenyum, Krit menjawab tidak, karena seseorang menipu.
Setelah itu, Krit meminum kopinya, tapi ketika ia meminum itu, ia merasa bahwa ras kopi itu berbeda dari kopi yang biasa ia minum.





“Aku mengubahnya dengan kopi Thailand. Rasanya lebih baik daripada kopi Italia mu. Aku ingin mengubah banyak hal. Aku ingin  mengubah tempat ini supaya terlihat seperti rumah. Dan aku ingin mengubahmu…” jelas Yada.

Dan sebelum Yada selesai menjelaskan, Krit langsung memotongnya. “Jangan berpikir untuk mengubahku,” tegas Krit.




“Kamu tidak berubah. Aku tidak berubah. Bagaimana kita bisa menjadi keluarga?” tanya Yada.

“Kemarin malam, bukankah itu begitu buruk?” balas Krit sambil tersenyum.

“Begitu buruk apa?” tanya Yada, heran.

“Menolak begitu buruk. Aku tidak tau mengapa kamu menolak,” jawab Krit.





Sebelum Yada sempat membalas perkataan Krit. Tiba-tiba saja hpnya berbunyi, jadi ia pun mengangkatnya. “Ada apa Jang?... Rapat besar apa?...”

Tepat ketika Yada sedang menerima telpon. Hp Krit juga berbunyi, jadi ia pun mengangkatnya. “Halo… Khun Dilok?... Bagaimana bisa aku melewatkan ini?...”

Mendengar nama Ayahnya disebut, maka Yada memandangin Krit. Dan Krit juga balas menatap ke arah Yada. Lalu secara bersamaan, mereka mematikan panggilan telpon mereka masing-masing.

Yada tampak heran serta khawatir. Sedangkan Krit tampak biasa saja dan tetap tersenyum.




Diruang rapat. Tassana, Nee, Khem, serta Trai, mereka berkumpul bersama untuk membahas sesuatu.

“Aku ingin kamu berbicara kepada Khun Dilok lagi. Menarik produk B-Star dari T-Mart, tidak ada hal yang baik dari melakukan itu,” kata Tassana, membuka pembicaraan.

“Dia tidak akan mengubah pemikirannya,” balas Trai.

“Bisakah kita menunda ini dulu?” tanya Khem.




“Semuanya terserah kepada keputusan Khun Dilok,” jawab Tassana.

Tepat ketika itu, Dilok masuk dan menegaskan bahwa itu benar, hanya ia yang bisa membuat keputusan. Dan dengan segera, Tassana berdiri, lalu berbicara.




“Tapi Anda telah menutup rute distribusi utama milik Anda,” jelas Tassana.

“Aku bisa kembali dan melakukan penjualan secara langsung seperti sebelumnya,” balas Dilok, tidak peduli.

“Saya ingin Anda memikirkan itu lagi. Pisahkan antara masalah pribadi Anda dengan pekerjaan,” kata Tassana, mengingatkan.

“Aku tau apa yang kulakukan! Aku tidak butuh amatir sepertimu mengajariku! Rapat berakhir,” kata Dilok, tegas. Lalu ia bergerak kearah Trai serta Khem.




Tepat ketika itu, Krit serta Yada telah tiba, mereka masuk ke dalam. Dan Krit langsung meminta agar Dilok menunggu, karena ia ingin mendengarkan rapat ini.

“B-Star membatalkan kontrak dengan T-Mart,” kata Dilok, tegas, tanpa peduli. Dan mendengar itu, Trai serta Khem berdiri dari duduknya, karena terkejut.




“Menurut ketentuan dikontrak, kamu bisa menjual produkmu selama 2 tahun melalui kami. Ini belum…” balas Nee kepada Dilok. Tapi sebelum ia selesai bicara, Dilok langsung memotongnya.

“Tidak apa-apa, jika tidak bisa! Aku ingin membatalkannya hari ini, kamu ada masalah dengan itu?!”

“Yah,” panggil Yada, ketika Dilok mulai marah-marah.




“Aku sangat menyukai nya, ketika sebuah perusahaan besar jatuh. Karena ketika itu jatuh, maka itu akan jatuh dengan keras,” kata Krit dengan tenang kepada Dilok. Sehingga membuat Dilok serta Khem tampak kesal.

Setelah itu, Dilok bergerak dan mengambil kontrak dimeja. Lalu merobeknya,”Aku akan batalkan sendiri. Silahkan lihat apa aku bisa mengatur nya tanpa kalian atau tidak!” teriak Dilok, marah.




Yada menahan Ayahnya yang ingin keluar dari ruangan. Ia lalu menanyakan alasan Ayahnya melakukan itu. Dan dengan mudahnya Dilok menjawab bahwa ini adalah perusahaannya, jadi terserah dia mau apa.

“Tapi 70% pendapatan kita dapatkan dari penjualan online. Jika kita memutukan rute ini, kita tidak akan memiliki apa-apa. Lagian aku juga akan meluncurkan produk baruku juga,” kata Yada, menjelaskan.

“Batalkan itu!! Jangan jual itu!” balas Dilok dengan nada keras.

“Jika kamu tidak mau produk baru lagi, kemudian tutup saja unitku,” kata Yada, masih mencoba untuk membuat Dilok berubah pikiran.


“Aku bukan hanya akan menutup itu. Aku memecatmu juga! Jangan melangkahkan kakimu di perusahaan ku lagi,” balas Dilok. Setelah itu, ia keluar dari dalam ruangan.
  

Yada sendiri, hanya bisa diam dan menatap kearah Dilok dengan sedih. Begitupun dengan yang lainnya, mereka hanya bisa diam dan menatap Dilok beserta bawahannya keluar dari dalam ruangan.




Dan setelah Dilok serta bawahannya telah benar-benar pergi. Krit memandang kearah Yada yang walaupun tampak sedih, tapi ia berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri agar tidak menangis.




Ketika telah sendiri, Yada merenungkan segalanya. Dan dari belakang, Krti datang menghampiri Yada.

“Ayahku pasti sangat membencimu. Dia akan membiarkan perusahaan hancur,” kata Yada dengan sedih, tapi dengan cepat ia menlap air matanya dan berbalik memandang Krit. Yada lalu menjelaskan bahwa kini ia merasa segala yang ia lakukan itu sia-sia dan ia tidak mendapatkan apapun.




“Mengapa kamu tidak mendapatkan dari itu? Kamu menikah denganku,” balas Krit. lembut. Lalu ia memeluk pundak Yada, lanjutnya untuk menenangkan Yada,”Jangan menangis lagi. Kamu masih punya aku.”

“Aku tidak menangis. Aku tidak menangis,” kata Yada sambil menghapus air matanya sendiri. Ia berbohong, ketika jelas-jelas ia sedang menangis.




“Bagaimana mungkin kamu tidak menangis? Aku melihat kamu menangis. Kamu sangat mencintai keluargamu,” balas Krit, lembut. Ia membiarkan Yada untuk menangis dipundaknya.




Tepat ketika itu, Nee datang dan melihat dari belakang, Krit yang sedang memeluk pundak Yada. Dan dibelakangnya, Trai yang juga kebetulan datang kesana, memperhatikan Yada serta Krit, lalu kearah Nee.

Trai mengingat, saat ia meminta agar Nee tidak menemui Krit lagi. Tapi pada saat itu, Nee dengan tegas menolak untuk meninggalkan Krit.






Setelah selesai menangis, menumpahkan kesedihannya dibahu Krit. Yada melepaskan dirinya dan lalu menlap air matanya sendiri. Dan ketika itulah, ia sadar bahwa Trai berada disana, dibelakangnya.

Begitu juga dengan Nee, ketika ia mengikuti arah pandang Yada yang menatap kebelakang nya. Dan disana Trai menatapnya dengan tajam.



Trai lalu mendekati Yada dan meminta Yada untuk memberitahu pada Khem bahwa ia akan pulang duluan. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka semua.




Setalah itu, Yada pun bergerak untuk pergi menemui Khem, tapi Krit langsung menahan tangannya. “Ini bukan perkerjaanmu,” kata Krit. Lalu sambil menggandeng tangan Yada, Krit mengajak Yada untuk pergi.




Ketika melihat Krit serta Yada berjalan melewatinya, Nee teringat akan perkataan Krit padanya yang menyebutkan bahwa sebenarnya ia hanya bersimpati pada Nee. Dan sampai Yada serta Krit tidak terlihat lagi, Nee masih saja tetap berdiri disana.




Direstoran. Yada mengirimkan pesan line kepada seseorang. Aku sudah disini. Dan ketika Krit balik, lalu duduk dihadapannya. Yada segera mematikan hpnya dan menyimpannya.

“Apa Ayahmu punya semacam rencana?” tanya Krit, tiba-tiba.

“Huh?”

“Ayahmu dulu sangat mencintai perusahaan ini, dia bahkan bisa menukarkan anak-anaknya untuk itu. Apa dia hanya akan menghancurkannya seperti ini?” jelas Krit menanyakan.




“Dia tidak memiliki rencana apapun. Karena bukan orang yang rumit seperti kamu. Dia tidak mau bekerja denganmu. Juga, T-Mart bukan hanya satu-satunya toko online di dunia. Jadi Khem dan Trai bisa mampu menyelesaikan masalah ini,” balas Yada.

“Jika mempercayai ini bisa membuat mu merasa baikan, maka percayailah itu.”

“Kamu kira kamu yang paling pintar?”

“Tidak. Aku kita kamu yang paling pintar di perusahaan. Jika mereka tidak memiliki kamu, B-Star pasti akan dilelang,” jawab Krit.




Sesampainya direstoran. Tassana bersikap aneh, setelah membaca pesan dihpnya, ia melihat ke sekeliling restoran, seperti mencari seseorang. Dan Khem yang melihat itu jadi merasa heran, lalu bertanya, siapa yang Tassana cari? Dan mengapa Tassana memilih restoran ini?





“Ini lebih dengan kantor. Serta lebih nyama,” jawab Tassana, menjelaskan. Lalu mulai memesan.

Tepat ketika itu, Khem tanpa sengaja melihat Yada  yang berada disebrang restoran lain. Disana Yada sedang makan. Dan melihat itu, Khem langsung membalikkan badannya agar Yada tidak melihatnya.

Tassana yang menyadari itu, bertanya ada apa. Dan Khem menjawab tidak apa-apa.




Setelah selesai makan, Krit menanyakan apakah Yada ingin kembali kehotel atau ia mau berhenti dulu ditempat lain. Tapi semua itu, Yada tolak, karena ia ingin kembali dan bekerja.

“Kamu sudah dipecat,” kata Krit, mengingatkan.

“Tapi aku masih punya kerjaan untuk diselesaikan. Aku bisa duduk dan bekerja diruangmu atau ruangan Khun Nee. Khususnya, Khun Nee, aku ingin kamu memaafkan dia. Jangan menunggu sampai kamu tidak memiliki satupun keluarga lagi dan menyesalinya,” kata Yada memberikan nasihat kepada Krit. Lalu bangkit berdiri dan pergi.




Tassana menyadari hal itu bahwa Yada telah selesai makan dan mau pergi. Begitu juga dengan Khem. Tapi tidak seperti Tassana yang tetap tenang, ketika mengetahui itu. Khem malah terburu- buru.

“Aku baru ingat, aku punya janji jam 12:30,” kata Khem beralasan.

“Tapi makanannya belum siap,” balas Tassana, mengingatkan akan pesanan mereka.




“Aku akan meninggalkan itu untuk kamu urus ya. Aku harus pergi,” kata Khem, setelah itu dengan cepat ia berdiri dan pergi.

Setelah Khem pergi. Tassana langsung mengeluarkan hpnya dan menelpon Yada dan menanyakan dimana mereka harus bertemu.




Didalam mall. Khem berkeliling dan lalu melihat keadaan sekitar, mencari keberadaan Yada. Dan ketika itu dari bawah, ia melihat bahwa Yada sedang berada dilantai atas. Jadi dengan buru-buru, Khem berjalan menaiki eskalator, dan menghampiri Yada.

Sayangnya, wanita yang dilihat Khem itu bukanlah Yada. Melainkan orang lain yang memiliki penampilan hampir sama seperti Yada.



Jadi melihat ke sekitarnya lagi, Khem mencari-cari keberadaan Yada. Dan tepat ketika itu, Khem melihat Yada yang sedang menuruni eskalator dengan langkah cepat.




Lalu dengan segera Khem langsung menyusul dan mau mengikuti Yada. Tapi sayangnya, ketika itu, ia malah kehilangan jejak Yada. Dan tepat disaat itu, tiba-tiba Khem mendengar suara Yada yang berterima kasih pada Tassana.




Khem mendekati sumber suara. Ia yang sedang berada dilantai atas, melihat kelantai bawah. Disana Yada sedang berduaan bersama Tassana. Dan lalu ia juga melihat, ketika Yada memegang tangan Tassana.

“Terima kasih banyak. Jika aku bisa memelukmu sekarang, aku akan,” kata Yada berterima kasih pada Tassana sambil memegang tangan Tassana.




“Kamu bisa memelukku sekarang, aku tidak masalah,” balas Tassana sambil meretangkan tangannya. Lalu dengan nada bercanda, menyuruh agar Krit jangan sampai tau. Dan membalas candaan Tassana, Yada menyuruh agar Khem juga tidak boleh sampai tau.

Dari atas. Ketika melihat itu, Khem tampak sangat sedih dan sakit hatinya. Lalu karena sudah tidak tahan lagi, Khem pergi dari sana.




“Aku tidak percaya bahwa seseorang seperti kamu ada dipihaknya,” kata Yada.

“Aku telah praktek. Aku ingin menjadi keren dan lembut seperti Krit,” balas Tassana.

“Jadilah dirimu sendiri. Khem menyukai kamu apa adanya.”

“Dia suka orang bodoh dan membosankan sepertiku?”

“Orang yang melihat orang baik sebagai bodoh, orang itu lebih bodoh.”




“Jangan menilaiku terlalu baik. Setiap orang pasti memliki sisi gelapnya. Aku tau sejak awal bahwa uang investasi berasal dari kasino, tapi T-Mart bukan tempat pencucian uang. Nama perusahaan-perusahaan itu semuanya berada didalam laptop Krit.”

“Aku akan mendapatkan nama-namanya.”

“Aku peringatkan kamu dulu ya. Jika Krit menangkapmu, kamu akan mendapatkan masalah.”

“Aku tidak akan kehilangan apapun lagi sekarang.”





Setelah mengingatkan Yada akan akibatnya nanti. Tassana lalu mengerluakan secarik kertas kecil dari jasnya dan memberikan itu kepada Yada. KAD2557. Kode itu adalah password untuk login di laptop Krit dan kode itu merupakan nama seseorang serta tahun yang tidak akan pernah bisa Krit lupakan.

Post a Comment

Previous Post Next Post