Sinopsis C- Drama : Die Now (Episode 4 : Kebohongan) part 1




Network: Sohu TV


Xia Chi tiba disebuah tempat, dimana disana terdapat beberapa orang yang telah berkumpul, termaksud dengan pria yang ditemuinya pertama kali pada awal permainan. Dan suara GM yang seperti biasa, hanya bisa didengar olehnya, menyapa kehadiran Xia Chi kedalam permainan.



“Kau lagi,” keluh Xia Chi, bersuara dalam pikirannya.

“Kenapa? Kamu tidak menyukaiku lagi? Kamu adalah orang pertama yang mengobrol denganku. Aku sudah sangat merindukanmu,” balas GM, terdengan sedih.

GM lalu menjelaskan peraturan permainan kepada Xia Chi, yaitu dia harus meninggalkan tempat ini dengan selamat. Orang pertama yang berhasil mendapatkan 10 poin, yang tidak berhasil, kehilangan 8 poin.


Mendengar itu, Xia Chi mulai memikirkan tentang sisa poin yang ia miliki. Saat ini ia hanya memiliki 6,5 poin dan kalau ia gagal saat ini, ia akan kehilangan 8 poin yang berarti ia akan bangkrut.

“Sayangku, Xia Chi. Ini adalah rahasia diantara kita ya. Pemain nomor 7 memiliki tugas khusus untuk mencegah pemain nomor 2 meloloskan diri. Jika dia berhasil, ia mendapatkan 5 poin. Jika tidak, tidak ada hukuman,” jelas GM.



Xia Chi lalu melihat kearah pemain nomor 2 yang sedang mengikat tali sepatunya, tapi lalu tangan satunya mengambil sebuah pisau yang berada didekat karung- karung. Ia menyimpan pisau lipat itu dalam sakunya. Melihat itu, Xia Chi menjadi heran, tapi GM tidak menjawabnya, pura- pura tidak mengerti.



“Oh. Jika kita bermain bersama. Bagaimana jika kita memperkenalkan diri kita masing- masing?” tanya seorang pemain wanita berkuncir rambut satu dan mengenakan sweater pink berbulu halus.



Seorang pemain pria berambut agak keriting, menjawab terserah, karena ia tidak peduli. Lalu pria pertama yang ditemui Xia Chi diawal permainan, juga membalas hal yang sama, tapi ia lalu tersenyum kearah Xia Chi dan mengatakan bahwa ia mengenal seseorang.



“Gadis kecil. Kamu sangat polos, kamu harus tau. Semua orang disini mungkin saja musuhmu,” kata pria (nomor 2) yang mengambil pisau tadi.

“Eh... kurasa kamu harus menyerah. Ini bukanlah tempat untuk berteman,” kata seorang pemain wanita berambut pendek.



Nomor 2 lalu menjelaskan bahwa semua aturannya sangat sederhana, ada permainan dimana pemain melawan pemain. Tim melawan pemain. Tim melawan tim. Misi tim dan misi pemain. Misi satu pemain.

Dan ada dua tipe permainan. Pertama, manusia melawan manusia. Kedua, manusia melawan sistem.

“Jika manusia melawan manusia, berarti perkenalan diri seperti ini sangat berbahaya,” jelas si nomor 2. Dan dibenarkan oleh wanita rambut pendek.



“Orang yang suka menganalisa, bisa memberitahu kelemahan seseorang melalui beberapa kata. Tidak memperkenalkan diri itu pintar,” kata wanita berambut panjang, setuju.

Tiba- tiba saja, wanita berkuncir teringat bahwa ia pernah melihat wanita berambut panjang (Guru Li) diTV. Dan mendengar itu nomor 2, langsung mendekat dan menyapa dengan senang, karena surat kabarnya sudah lama ingin mewawancarainya.



Mendengar hal itu, maka semua orang dapat menyimpulkan kalau nomor 2 adalah seorang wartawan. Dan si rambut pendek langsung mengatakan bahwa jika begini, maka mereka telah mengungkapkan identitas mereka sendiri.

Menyadari kesalahannya, nomor 2 menjadi kesal, sedangkan Guru Li tidak peduli. Sehingga suasana pun seketika menjadi canggung. Jadi wanita berkuncir pun mulai memperkenalkan dirinya untuk mencairkan suasana.



“Sudahlah, ini salahku. Biar adil, aku aka memperkenalkan diriku. Halo. Aku Li Meng. Pelajar,” kata si wanita berkuncir (Li Meng no. 3).

Si pria berambut keriting protes (nomor 1), karena Li Meng bertindak sembarangan. Dan tentu saja Li Meng tidak terima, karena ini adalah kali keduanya ia bermain. Mendengar itu nomor 2 pun menawarkan bantuan untuk melindungin Li Meng dalam permainan. Dan lalu ia juga mengajak Guru Li.


“Karena  ini adalah persaingan tim, selama semuanya bekerja sama, maka kita akan baik- baik saja. Tapi kamu, begitu banyak bicara. Mencoba untuk pamer?” kata Guru Li kepada nomor 2.

“Aku? Pamer? Aku tidak ada pamer,” balas nomor 2 sambil tertawa kecil.

Guru Li lalu menyarankan agar mereka pisah dalam 3 tim demi keamanan bersama. Dia dan nomor 2 didepan. Nomor 5 dan 7 dibelakang. Wanita akan berada ditengah. Setelah itu ia mengajak mereka untuk mencari pintu keluar.



Tapi tiba- tiba pria yang pertama kali ditemui Xia Chi diawal permainan (nomor 5) mengatakan kepada Xia Chi, si manis kecilnya, yaitu agar mereka membuat permainan menjadi lebih menarik.

Dengan keras, ia mengatakan kepada semua bahwa setiap orang pasti memiliki misi sendiri- sendiri. Dan mendengar itu, semua orang langsung menjadi terkejut dan terdiam.


“Karena sudah terungkap, misiku adalah nomor 7. Kamu ditakdirkan menjadi mangsaku,” kata nomor 5 dengan penuh percaya diri menunjuk Xia Chi.



Nomor 2 masih tidak mau mengakui tentang misi pribadinya. Tapi nomor 1 langsung berkata bahwa itu benar dan meminta mereka berhenti berpura- pura. Dan hal itu membuat nomor 2 kesal dan lalu mereka berdua mulai mau berkelahi.

“Berhenti bertengkar! Ini hanya misi pilihan. Tujuannya sudah jelas. Kita masih belum tau bahaya yang ada. Jika kita tidak bekerja sama sekarang, maka kita akan makin rentan,” kata Guru Li.



“Wah, perkataan Guru Li begitu masuk akal. Si manis kecil, kamu harus mendengarkan dengan baik,” puji nomor 5.

“Aku punya usul. Semuanya untuk sementara waktu, lepaskan dulu misi pribadinya. Tunggu sampai kita menemukan pintu keluar. Bagaimana pun kita harus menyelesaikan misi utama,” kata Guru Li (nomor 4).

Setiap orang setuju, termaksud nomor 5. Kecuali Xia Chi, karena menurutnya jika bersama mereka, maka itu lebih tidak aman, jadi lebih baik bila ia pergi sendirian. Begitu juga dengan nomor 1 yang memutuskan untuk pergi sendiri.




“Kamu bisa pergi sendiri. Tapi aku peringatkan kalian semua, jika ada salah satu dari kalian yang diserang, maka orang itu akan menjadi musuh bersama kami,” kata Guru Li memberikan peringatan.

Sedangkan Li Meng kebingungan harus gimana. Jadi akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi sendirian.



Disebuah lorong berdinding putih. Xia Chi berjalan sendirian dengan agak ragu sambil memikirkan kembali keputusannya. Keadaan barusan begitu meledak. Persekutuan ini terlalu lemah. Disaat seperti ini, pergi sendiri seharusnya lebih aman.

Tepat pada saat itu, Xia Chi menyadari bahwa ada seseorang orang yang mengikutinya, yaitu Li Meng.



“Aku tidak ingin pergi dengan mereka. Tapi aku juga takut untuk pergi sendirian. Kamu sudah tau kalau nomor 5 adalah musuhmu, jadi aku tidak akan membahayakanmu. Dan .. dan ... jika kita pergi berdua, maka kita bisa saling melindungin, kan?” jelas Li Meng dengan agak ragu.

Lalu Xia Chi pun setuju untuk membiarkannya ikut bersama dengannya. Dan dengan senang, Li Meng langsung mendekati Xia Chi serta mengikutinya.


“Kamu mungkin sudah tau bahwa setiap orang tidak akan memperkenalkan diri mereka. Kamu berpura- pura menjadi pemain baru, jadi orang tidak akan berfokus padamu,” kata Xia Chi memberitahukan pemikirannya.



“Sebenarnya, ini adalah keenam kalinya aku memainkan permainan ini. Aku tidak punya cara lain, otakku tidak sepintar itu. Jadi aku hanya bisa berpura- pura menjadi pemain baru setiap kalinya, supaya orang lain tidak berfokus kepadaku. Dan menemukan bantuan,” jelas Li Meng.

“Jadi kali ini, kamu menemukan ku untuk membantumu?” tanya Xia Chi, berkesimpulan. Dan Li Meng membenarkan itu, lalu ia menjelaskan bahwa permainan saat ini adalah kebohongan pertemanan.

Post a Comment

Previous Post Next Post